Berita Ambon, Berita MalukuAmbon, Maluku (DMS) – Harga sejumlah komoditas pangan di Pasar Mardika Ambon mengalami kenaikan dalam beberapa hari terakhir. Kenaikan terutama terjadi pada ikan dan cabai yang dipengaruhi kondisi cuaca serta pasokan dari daerah penghasil. Pantauan di Pasar Mardika Ambon, Sabtu (8/8/2026), menunjukkan harga ikan jenis momar yang sebelumnya berada di kisaran Rp300.000 hingga Rp350.000 per loyang, kini meningkat hingga Rp700.000-Rp750.000 per loyang. Sementara ikan cakalang dan tatihu bahkan disebut pedagang mencapai Rp1,3 juta per loyang. Pedagang ikan, Ivana Risakotta, mengatakan kenaikan harga ikan terjadi cukup signifikan dalam dua pekan terakhir. “Kalau ikan momar lagi naik harga. Dua minggu yang lalu boleh murah, tapi sekarang mahal. Satu loyang Rp750.000,” kata Ivana. Menurutnya, sebelumnya harga ikan momar dan sejumlah jenis ikan kecil lainnya hanya berada di kisaran Rp300.000 hingga Rp350.000 per loyang. Ia menyebut kondisi cuaca buruk menjadi salah satu penyebab berkurangnya pasokan ikan dari sejumlah wilayah, termasuk Latuhalat. “Latuhalat lagi ombak, jadi kadang bodi seng dapat pergi. Ikan Latuhalat kurang, banyak dari sebelah,” ujarnya. Selain faktor cuaca, kenaikan harga di tingkat perusahaan juga turut memengaruhi harga ikan di pasar. Ivana menjelaskan, harga ikan di perusahaan saat ini dapat mencapai sekitar Rp650.000 per loyang. Kondisi tersebut membuat pedagang harus menyesuaikan harga jual untuk menutupi biaya pembelian. “Kalau di perusahaan Rp650.000, pasar harus Rp700.000 atau Rp750.000,” katanya. Pedagang ikan lainnya, Mely Lekatompessy, juga membenarkan adanya kenaikan harga ikan dalam dua hari terakhir. Menurut Mely, harga ikan yang sebelumnya sekitar Rp550.000 per loyang kini bisa mencapai Rp650.000 hingga Rp700.000 saat dibeli dari pemasok. “Karena cuaca, ikan mahal. Sudah dua hari ini ikan harga naik. Ada Rp650.000, Rp700.000,” katanya. Namun, harga jual di pasar bisa kembali turun ketika pasokan ikan meningkat. Mely mengatakan dirinya sempat membeli ikan momar seharga Rp700.000 per loyang, tetapi menjualnya sekitar Rp600.000 karena ikan yang masuk ke pasar cukup banyak. “Tadi katong beli momar Rp700.000 satu loyang, tapi sampai di pasar Rp600.000. Ikan banyak, dari perusahaan banyak,” ujarnya. Meski harga mengalami perubahan, minat masyarakat terhadap ikan masih cukup tinggi. Pedagang menyebut ikan tetap menjadi salah satu kebutuhan yang banyak dicari konsumen di Pasar Mardika. Kenaikan harga juga terjadi pada komoditas cabai. Pedagang cabai, Lahaga, mengatakan harga cabai yang dibelinya dari pemasok kini mencapai Rp70.000 hingga Rp80.000 per kilogram. Sebelumnya, harga modal masih berada di kisaran Rp55.000 hingga Rp60.000 per kilogram. “Katong ambil masih Rp55.000, Rp60.000, tapi tadi katong ambil Rp70.000 atau Rp80.000. Sekarang paling besar Rp80.000,” katanya. Menurutnya, harga cabai sangat bergantung pada ketersediaan pasokan. Ketika hasil panen berkurang, harga otomatis mengalami kenaikan. Berita Lainnya Harga Emas di Ambon Naik, Transaksi Masih Sepi Kota Kepulauan Lease Tinggal Tunggu Restu DPRD dan Bupati Kelangkaan Minyak Tanah di Ambon Masih Berulang, Stok Cepat Habis “Hasil tidak tentu. Kalau banyak berarti murah, kalau kurang berarti harga naik lagi,” ujarnya. Pedagang cabai lainnya, Dinda, mengatakan kenaikan terjadi pada hampir semua jenis cabai. Cabai besar dan cabai kecil saat ini dijual sekitar Rp90.000 per kilogram, sedangkan cabai keriting mencapai Rp100.000 per kilogram. Dinda menyebut harga modal cabai besar dan kecil sekitar Rp70.000 per kilogram, sementara cabai keriting dibeli sekitar Rp85.000 per kilogram. “Kalau cabai besar dan cabai kecil sudah naik. Katong sudah jual Rp90.000 satu kilo, barang katong ambil Rp70.000. Kalau cabai keriting sudah Rp100.000, katong ambil Rp85.000,” jelasnya. Ia mengatakan kondisi cuaca di sejumlah wilayah Seram menjadi salah satu penyebab utama berkurangnya produksi cabai. Menurut Dinda, wilayah seperti Masohi, Kobi dan Sosohat mengalami kondisi minim hujan selama beberapa bulan sehingga tanaman cabai banyak mengalami kerusakan. “Kendala sampai cabai mahal ini barang cuaca. Panas. Barang semua mati. Di Seram ini sudah lima bulan seng hujan. Masohi, Kobi, Sosohat semua. Makanya cabai mati, makanya harga cabai naik,” ungkapnya. Meski harga cabai meningkat, permintaan masyarakat di Ambon tetap tinggi. Dinda mengatakan cabai merupakan salah satu kebutuhan yang tetap dibeli masyarakat meskipun harganya mengalami kenaikan. “Namanya Ambon ini, cabai biar mahal sampai Rp300.000 juga orang beli. Cabai dengan micin, biar mahal sampai apa juga tetap orang beli,” katanya. Namun, kenaikan harga tersebut tidak otomatis membuat keuntungan pedagang meningkat besar. Dinda mengaku margin keuntungan yang diperoleh hanya sekitar Rp15.000 per kilogram. Jika mampu menjual sekitar 10 kilogram, keuntungan kotor yang diperoleh sekitar Rp150.000. Namun, volume tersebut tidak selalu habis dalam sehari. “Kalau 10 kilo, katong untung Rp150.000. Itu pun dua hari, tiga hari. Kalau cabai mahal begini, dua hari tiga hari baru katong dapat untung,” jelasnya. Ia mengatakan penjualan cabai dalam kondisi harga tinggi cenderung lebih lambat, sehingga stok sekitar 10 kilogram bisa membutuhkan waktu dua hingga tiga hari untuk habis. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kenaikan harga komoditas di Pasar Mardika tidak hanya berkaitan dengan permintaan konsumen, tetapi juga dipengaruhi oleh cuaca, ketersediaan pasokan, produksi dari daerah penghasil, serta harga di tingkat pemasok dan perusahaan. Pedagang berharap kondisi cuaca segera membaik sehingga pasokan ikan dan cabai kembali normal dan harga di pasar dapat kembali stabil.
Artikel Terkait
Peristiwa Terbaru Indonesia: Informasi Aktual untuk Semua Kalangan
Peristiwa merupakan bagian penting dari kehidupan yang selalu mengalami perkembangan setiap hari. Berbagai kejadian yang berlangsung di…
Bali Rafting Adventure: Aktivitas Seru yang Wajib Dicoba Saat Liburan
Bali tidak hanya dikenal dengan pantainya yang eksotis, pura yang megah, dan budaya yang kaya, tetapi juga menawarkan berbagai aktivitas…
Pariwisata Bali 2026 Bangkit Pesat, Inovasi Digital dan Atraksi Wisata Baru Tarik Wisatawan Global
DENPASAR – Pariwisata Bali terus menunjukkan kebangkitan yang kuat pada tahun 2026. Berbagai inovasi digital, peningkatan kualitas…
Persiapan Pemeriksaan Pajak: Langkah Penting agar Proses Audit Berjalan Lebih Lancar
Menerima pemberitahuan pemeriksaan pajak sering kali membuat perusahaan merasa khawatir. Padahal, pemeriksaan pajak merupakan bagian dari…
Bali Ayung Rafting: Aktivitas Wisata Favorit dengan Pemandangan Alam Ubud
UBUD – Aktivitas Bali Ayung Rafting kembali menjadi pilihan utama bagi wisatawan yang mengunjungi Pulau Dewata pada tahun 2026.…
Mengapa Lagu yang Tenang Sering Terasa Lebih Menyentuh daripada Lagu yang Dramatis?
Banyak orang menganggap lagu yang emosional harus memiliki nada tinggi, instrumen yang megah, atau lirik yang penuh konflik. Namun…